Jumat, 05 Februari 2010

esai gw...!

ni sebernya tugaa esai gw, jd yg gw tulis merupakan pendangan pribadi gw terhadap suatu hal, dan plisssssssssss.... bagi tmen2 sekolah gw bhkan tmen2 sekelas gw jgn d copy paste yaaa.... untk yg laen...... terserah krna ni sifatnya share.......

GEJALA SOSIAL REMAJA MASA KINI

Jika membahas tentang hal ini, sangat menarik untuk di telaah karena pada masa sekarang banyak sekali gejala social yang terjadi di kalangan remaja. Apakah semua itu? Apakah anda termasuk di dalamnya? Apa saja yang menyebabkan gejala social terjadi? Gejala social terjadi karena adanya karakter individu dan kemampuan individu itu sendiri dalam beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Karekter seseorang dapat terbentuk karena berbagai faktor. Karakter seseorang bisa terbentuk karena adanya gen bawaan dari orang tua, karena sebagian karakter kita merupakan sifat turunan dari orang tua kita. Setelah itu didikan serta figure orang tualah yang berperan besar dalam pembentukan karakter seseorang. Setelah beranjak remaja lingkunganlah yang menjadi faktor utama dalam pembentukan karakter, baik lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan, dan lain-lain. Hanya saja sebagai remaja sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa segalanya ingin di coba entah baik atau buruk, yang penting ikut dengan teman, tentunya setelah mengenal lingkungan baru karena semua itu merupakan bagian dari pencarian jati diri sang individu. Amat di sayangkan apabila sang individu katakanlah salah jalan dalam mengambil “jalan” yang dia tempuh, itu bermula terjadi karena, mungkin kurangnya figure orang tua dalam dirinya sehingga dia melampiaskan ke dunia luar yang keras atau memang dia salah memilih teman dalam lingkungannya yang baru itu sehingga dia masuk kedalam pergaulan yang tidak sehat. Lalu gejala social pun terjadi, baik yang buruk ataupun yang memang pantas bagi seorang remaja.

Setelah itu kemampuan individu untuk beradaptasi serta bersosialisasi amat berperan dalam menciptakan suatu gejala social. Kemampuan beradaptasi sudah dimiliki seoarang individu sejak kecil, karena dari kecil di didik oleh orang tua dengan segala aturannya, lalu sang individu memiliki kemampuan untuk beradapatasi dengan lingkungan atau dengan orang sekitar. Sedangakn kemampuan untuk bersosialisasi terbentuk beriringan dengan sifat atau karakter sang individu itu, karena karakter seseorang berbeda-beda maka kemampuan bersosialisasinya pun berbeda, ada yang pemalu, awalnya saja pemalu, periang, hingga mudah bergaul. Itu semua akan mempengaruhi sifat hingga psikologis sang individu setelah dia mengenal lingkungan baru dan membaur di antara teman barunya. Lalu gejala social pun terjadi dengan berbagai perubahan pada diri sang individu itu sendiri.

Dalam gejala social yang terjadi pada remaja banyak sekali variasinya, yang memang berbeda dengan remaja satu dengan yang lainya, mulai dari social climber, star syndrome, minder, krisis percaya diri, salah pergaulan, hingga adanya jenjang antara si popular dan si cupu, dan lain sebagainya. Social climber adalah sifat dimana individu mencari jati diri dengan cara ingin menonjol di antara yang lain dengan cara “menaiki” status ekonomi kehidupannya padahal dia sadar bahwa dia kurang mampu, mungkin orang ini sering di sebut dengan OKB atau orang kaya baru, contoh yang sering terjadi adalah remaja yang ikut-ikutan trend masa kini yang sebetulnya kurang penting untuk dirinya sendiri, malah menghambur-hamburkan materi hanya untuk ikut-ikutan trend demi menonjol di antara yang lain. Ada pula yang di namakan star syndrome, yaitu dimana individu merasa “super star” di antara yang lain, atau yang lebih dikenal dengan Miss Poluler atau Sang Pangeran di kalangan remaja, itu semua karena karakter individu bias jadi sangat di manja oleh kedua orang tuanya, lebih lagi di dukung oleh materi yang melimpah juga tampang yang lumayan, sehingga dia merasa penting dari yang lainnya, biasanya individu ini memiliki sifat yang egois karena psikologinya dari kecil memang di manja, maka dari itu jangan terlalu memanjakan anak anda. Lalu ada sifat minder, sifat ini sudah sangat taka sing lagi di telinga remaja, sifat ini mungkin terbentuk saat kecil karena suatu keadaan, peristiwa, bawaan atau emang seperti itu. Biasanya sifat ini sebenarnya sangatlah menganggu karena sulit untuk bersosialisasi dengan sekitar selain itu mudah sekali untuk terjerembab kedalam pergaulan yang tidak sehat. Krisis percaya diri memang irip dengan minder hanya saja remaja yang mengidap krisis percaya diri sulit untuk menampakan siapa dia sebenarnya., karena memang dia kurang memiliki percaya diri yang tinggi sehingga selalu berada di balik punggung orang lain. Pada masa sulit seperti sekarang, pergaulan pun bisa salah arah, sehingga berdampak pada gejala social yang tak sehat sampai muncul peristiwa yang memilukan pada kalangan remaja, seperti hamil di luar nikah, narkoba, pemerkosaan, hingga tidak kriminalitas lainya yang semuanya di lakukan oleh remaja, sungguh sangat menyesekan dada. Lalu ada lagi istilah yang sering kita dengar, si popular dan si cupu. Mereka bukanlah nama seseorang tentunya, hanya julukan bagi kalangan remaja atau yang lebih tepat golongan remaja. Si popular adalah sekelompok atau seorang remaja yang merasa dirinya paling cantik atau tampan, paling kaya, paling penting, paling modis,0 dan tidak penting mau pintar tau tidak, yang penting bias tampil habis-habisan di bandingkandengan yang lain. Memang mirp dengan star syndrome hanya saja si popular katakanlah bisa menular kepada teman-temannya karena secara otomatis atau tidak individu yang ikut dengan golongan si popular akan mengikuti gaya hidupnya yang pada aikhirnya akan menumbuhkan sifat star syndrome pada dirinya. Sedangkan cupu selalu di artikan bagi anak-anak yang mempunyai kemampuan otak yang tinggi sehingga biasanya mempunyai sifat inder dan selalu jadi bahan olok-olok oleh yang lain yang penampilannya seragam rapi, berkaca mata, rambut rapi, dan lain sebagainya, padahal dalam dirirnya puya rasa ingin menampakan pada yang lain siapa dia sebenarnya tetapi rasanya sulit.

Selain itu ada pula gejala social yang baik bagi remaja. Adanya remaja yang berprestasi dalam bidangnya dan tidak egois atau sombong serta tidak berpenampilan cupu di tambah dapat membedakan mana lingkungan yang baik dan tidak adalah remaja yang menurut saya sukses dalam bergaul serta beradaptasi dan bersosialisasi sehingga dapat menciptakan gejala social remaja yang sehat. Di harapkan remaja yang seperti inilah yang dapat membawa nama baiknya serta keluarganya bahkan Negara menjadi lebih baik ke depannya.

Jadi, yang seperti apakah remaja yang sukses dalam bergaul sehingga dapat menciptakan gejala social yang sehat? Yaitu remaja yang dapat membedakan antara yang baik dan yang tidak, serta dapat menyaring lingkungan dan teman-teman yang baik ataupun yang tidak tanpa harus menghakimi merka dengan pandangan negatif. Walaupun si remaja mendapatkan figure orang tua ataupun tidak, itu bukanlah alasan untuk melampiaskan ke hal-hal yang negative, sehingga si remaja dapat berkembang menjadi manusia dewasa yang baik, kelak akan menjadi penerus bangsa yang baik.

maaf klo bnyak salh-slah kata d sna sni.. namanya jg belajar..

Kamis, 28 Januari 2010

Topeng Indonesia

DEFINISI TOPENG


Menurut pendapat salah seorang seniman dari ujung gebang-Susukan-Cirebon, Marsita, kata topeng berasal dari kata” Taweng” yang berarti tertutup atau menutupi. Sedangkan menurut pendapat umum, istilah kata Topeng mengandung pengertian sebagai penutup muka / kedok.
Berdasarkan asal katanya tersebut, maka tari Topeng pada dasarnya merupakan seni tari tradisional masyarakat Cirebon yang secara spesifik menonjolkan penggunaan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya.
Seperti yang telah diutarakan diatas, bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam seni tari topeng Cirebon mempunyai arti simbolik dan penuh pesan-pesan terselubung, baik dari jumlah kedok, warna kedok, jumlah gamelan pengiring dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan upaya para Wali dalam menyebarkan agama Islam dengan menggunakann kesenian Tari Topeng setelah media Dakwah kurang mendapat Respon dari masyarakat.

Jumlah Topeng / Kedok seluruhnya ada 9 (sembilan ) buah, yaitu : Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Tumenggung atau Patih, Kelana atau Rahwana, Pentul, Nyo atau Semblep, Jinggananom dan Aki – aki. Dari kesembilan Topeng / Kedok tersebut yang dijadikan sebagai Kedok pokok hanya 5 (lima ) buah yaitu : Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Tumenggung dan Kelana. Sedangkan empat kedok lainnya hanya digunakan apabila dibuat ceruta / lakon seperti cerita Jaka Blowo, Panji Blowo, Panji Gandrung dll.


SEJARAH TOPENG


suatu bentuk penyamaran. Ini adalah objek yang sering dikenakan di atas atau di depan wajah untuk menyembunyikan identitas seseorang dan dengan fitur sendiri untuk membentuk makhluk lain. This essential characteristic of hiding and revealing personalities or moods is common to all masks. Karakteristik penting ini bersembunyi dan mengungkap kepribadian atau suasana hati yang umum bagi semua topeng. As cultural objects they have been used throughout the world in all periods since the Stone Age and have been as varied in appearance as in their use and symbolism. Sebagai benda-benda budaya mereka telah digunakan di seluruh dunia dalam semua periode sejak Zaman Batu dan telah seperti yang bervariasi dalam penampilan seperti dalam penggunaan dan simbolisme.



Topeng telah dirancang dalam varietas yang tak terhitung banyaknya, dari yang paling sederhana mentah "wajah palsu" yang diselenggarakan oleh sebuah pegangan untuk menyelesaikan tutup kepala dengan bagian-bagian bergerak yang cerdik dan wajah tersembunyi. Mask makers have shown great resourcefulness in selecting and combining available materials. Pembuat topeng telah menunjukkan sumber daya yang besar dalam memilih dan mengkombinasikan bahan-bahan yang tersedia. Di antara zat yang digunakan adalah kayu, logam, kerang, serat, gading, tanah liat, tanduk, batu, bulu, kulit, bulu, kertas, kain, dan jagung sekam. Permukaan perawatan telah berkisar dari kesederhanaan kasar ke ukiran yang rumit dan dari dipoles hutan dan mosaik untuk perhiasan mencolok.


Topeng umumnya dikenakan dengan kostum, sering kali begitu lengkap sehingga mencakup seluruh tubuh pemakainya. Pada dasarnya kostum melengkapi identitas baru yang diwakili oleh masker, dan biasanya tradisi menentukan penampilan dan konstruksi pada tingkat yang sama seperti topeng itu sendiri. Costumes, seperti topeng, yang dibuat dari berbagai macam bahan, yang semuanya memiliki simbolik sehubungan dengan topeng total pencitraan. Idealnya kostum harus dilihat dengan topeng sementara pemakai adalah dalam tindakan.


Unsur morfologis topeng adalah dengan sedikit pengecualian berasal dari bentuk-bentuk alam. Topeng dengan fitur manusia diklasifikasikan sebagai antropomorfik dan orang-orang dengan karakteristik sebagai theriomorphic binatang. Dalam beberapa kasus, bentuk topeng adalah replikasi fitur alam atau erat mengikuti lineaments realitas, dan dalam contoh-contoh lain adalah sebuah abstraksi. Topeng biasanya menunjukkan makhluk gaib, leluhur, dan berkhayal atau membayangkan angka-angka dan juga dapat potret. Para lokalisasi roh tertentu dalam topeng tertentu harus dianggap alasan yang sangat signifikan bagi keberadaannya.


Perubahan identitas si pemakai untuk bahwa dari masker sangat penting, karena jika jiwa tidak diwakili tinggal dalam gambar topeng, ritual petisi, doa, dan persembahan dibuat untuk itu akan sia-sia dan tak berarti.Oleh karena itu, paling sering berfungsi sebagai sarana kontak dengan berbagai kekuatan roh, sehingga melindungi melawan kekuatan yang tidak diketahui oleh alam semesta yang berlaku atas potensi mereka dalam segala hal kebaikan relatif terhadap kehidupan.



Topeng adalah sebagai bervariasi dalam penampilan luar biasa ketika mereka berada dalam fungsi atau makna mendasar. Banyak topeng terutama berhubungan dengan upacara yang memiliki makna sosial dan keagamaan atau berkaitan dengan adat penguburan, upacara kesuburan, atau menyembuhkan penyakit. Topeng lain digunakan pada kesempatan pesta atau untuk memerankan karakter dalam performa yang dramatis dan dalam undang-undang kembali dari kejadian mitologis. Topeng juga digunakan untuk perang dan sebagai alat pelindung dalam olahraga tertentu, juga sering dipekerjakan sebagai hiasan arsitektural.




Jumat, 15 Januari 2010

Super Hero Indonesia






GATOT KACA

Gatotkaca (bahasa Sanskerta: Ghattotkacha) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata yang dikenal sebagai putra Bimasena atau Wrekodara dari keluarga Pandawa. Ibunya yang bernama Hidimbi (Harimbi) berasal dari bangsa rakshasa, sehingga ia pun dikisahkan memiliki kekuatan luar biasa. Dalam perang besar di Kurukshetra ia banyak menewaskan sekutu Korawa sebelum akhirnya gugur di tangan Karna.
Di Indonesia, Gatotkaca menjadi tokoh pewayangan yang sangat populer. Misalnya dalam pewayangan Jawa ia dikenal dengan ejaan Gatutkaca (bahasa Jawa: Gathutkaca). Kesaktiannya dikisahkan luar biasa, antara lain mampu terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap, serta terkenal dengan julukan "otot kawat tulang besi".

Asal-Usul dan Arti Nama

Menurut versi Mahabharata, Gatotkaca adalah putra Bimasena dari keluaga Pandawa yang lahir dari seorang rakshasa perempuan bernama Hidimbi. Hidimbi sendiri merupakan raksasi penguasa sebuah hutan bersama kakaknya yang bernama Hidimba.
Dalam pewayangan Jawa, ibu Gatotkaca lebih terkenal dengan sebutan Arimbi. Menurut versi ini, Arimbi bukan sekadar penghuni hutan biasa, melainkan putri dari Kerajaan Pringgadani, negeri bangsa rakshasa.
Dalam bahasa Sanskerta, nama Ghatotkacha secara harfiah bermakna "memiliki kepala seperti kendi". Nama ini terdiri dari dua kata, yaitu ghaṭ(tt)am yang berarti "buli-buli" atau "kendi", dan utkacha yang berarti "kepala". Nama ini diberikan kepadanya karena sewaktu lahir kepalanya konon mirip dengan buli-buli atau kendi.

Kelahiran
Kisah kelahiran Gatotkca dikisahkan secara tersendiri dalam pewayangan Jawa. Namanya sewaktu masih bayi adalah Jabang Tetuka. Sampai usia satu tahun tali pusarnya belum bisa dipotong walau menggunakan senjata apa pun. Arjuna (adik Bimasena) pergi bertapa untuk mendapatkan petunjuk dewa demi menolong nasib keponakannya itu. Namun pada saat yang sama Karna, panglima Kerajaan Hastina juga sedang bertapa mencari senjata pusaka.
Karena wajah keduanya mirip, Batara Narada selaku utusan kahyangan memberikan senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan kepada Arjuna. Setelah menyadari kesalahannya, Narada pun menemui Arjuna yang sebenarnya. Arjuna lalu mengejar Karna untuk merebut senjata Konta.
Pertarungan pun terjadi. Karna berhasil meloloskan diri membawa senjata Konta, sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung pembungkus pusaka tersebut. Namun sarung pusaka Konta terbuat dari Kayu Mastaba yang ternyata bisa digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka.
Akan tetapi keajaiban terjadi. Kayu Mastaba musnah dan bersatu dalam perut Tetuka. Kresna yang ikut serta menyaksikannya berpendapat bahwa pengaruh kayu Mastaba akan menambah kekuatan bayi Tetuka. Namun ia juga meramalkan bahwa kelak Tetuka akan tewas di tangan pemilik senjata Konta.

Menjadi Jago Dewa
Versi pewayangan Jawa melanjutkan, Tetuka kemudian dipinjam Narada untuk dibawa ke kahyangan yang saat itu sedang diserang musuh bernama Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket. Ia diutus rajanya yang bernama Kalapracona untuk melamar bidadari bernama Batari Supraba. Bayi Tetuka dihadapkan sebagai lawan Sekipu. Anehnya, semakin dihajar bukannya mati, Tetuka justru semakin kuat.
Karena malu, Sekipu mengembalikan Tetuka kepada Narada untuk dibesarkan saat itu juga. Narada kemudian menceburkan tubuh Tetuka ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa. Para dewa kemudian melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah. Beberapa saat kemudian, Tetuka muncul ke permukaan sebagai seorang laki-laki dewasa. Segala jenis pusaka para dewa telah melebur dan bersatu ke dalam dirinya.
Tetuka kemudian bertarung melawan Sekipu dan berhasil membunuhnya menggunakan gigitan taringnya. Kresna dan para Pandawa saat itu datang menyusul ke kahyangan. Kresna kemudian memotong taring Tetuka dan menyuruhnya berhenti menggunakan sifat-sifat kaum raksasa.
Batara Guru raja kahyangan menghadiahkan seperangkat pakaian pusaka, yaitu Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma, dan Terompah Padakacarma untuk dipakai Tetuka, yang sejak saat itu diganti namanya menjadi Gatotkaca. Dengan mengenakan pakaian pusaka tersebut, Gatotkaca mampu terbang secepat kilat menuju Kerajaan Trabelasuket dan membunuh Kalapracona.

Perkawinan
Dalam versi Mahabharata, Gatotkaca menikah dengan seorang wanita bernama Ahilawati. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernmama Barbarika. Baik Gatotkaca ataupun Barbarika sama-sama gugur dalam perang besar di Kurukshetra, namun di pihak yang berbeda.
Dalam versi pewayangan Jawa, Gatotkaca menikah dengan sepupunya, yaitu Pregiwa putri Arjuna. Ia berhasil menikahi Pregiwa setelah melalui perjuangan berat, yaitu menyingkirkan saingannya, bernama Laksmana Mandrakumara putra Duryudana dari keluarga Korawa.
Dari perkawinan Gatotkaca dengan Pregiwa lahir seorang putra bernama Sasikirana. Ia menjadi panglima perang Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Parikesit, putra Abimanyu atau cucu Arjuna.
Versi lain mengisahkan, Gatotkaca memiliki dua orang istri lagi selain Pregiwa, yaitu Suryawati dan Sumpaniwati. Dari keduanya masing-masing lahir Suryakaca dan Jayasumpena.

Menjadi Raja Pringgadani
Gatotkaca versi Jawa adalah manusia setengah raksasa, namun bukan raksasa hutan. Ibunya adalah Arimbi putri Prabu Tremboko dari Kerajaan Pringgadani. Tremboko tewas di tangan Pandu ayah para Pandawa akibat adu domba yang dilancarkan Sangkuni. Ia kemudian digantikan oleh anak sulungnya yang bernama Arimba.
Arimba sendiri akhirnya tewas di tangan Bimasena pada saat para Pandawa membangun Kerajaan Amarta. Takhta Pringgadani kemudian dipegang oleh Arimbi yang telah diperistri Bima. Rencananya takhta kelak akan diserahkan kepada putra mereka setelah dewasa.
Arimbi memiliki lima orang adik bernama Brajadenta, Brajamusti, Brajalamadan, Brajawikalpa, dan Kalabendana. Brajadenta diangkat sebagai patih dan diberi tempat tinggal di Kasatrian Glagahtinunu. Sangkuni dari Kerajaan Hastina datang menghasut Brajadenta bahwa takhta Pringgadani seharusnya menjadi miliknya bukan milik Gatotkaca.
Akibat hasutan tersebut, Brajadenta pun memberontak hendak merebut takhta dari tangan Gatotkaca yang baru saja dilantik sebagai raja. Brajamusti yang memihak Gatotkaca bertarung menghadapi kakaknya itu. Kedua raksasa kembar tersebut pun tewas bersama. Roh keduanya kemudian menyusup masing-masing ke dalam telapak tangan Gatotkaca kiri dan kanan, sehingga manambah kesaktian keponakan mereka tersebut.
Setelah peristiwa itu Gatotkaca mengangkat Brajalamadan sebagai patih baru, bergelar Patih Prabakiswa.

Kematian Versi Mahabharata
Kematian Gatotkaca terdapat dalam buku ketujuh Mahabharata yang berjudul Dronaparwa, pada bagian Ghattotkacabadhaparwa. Ia dikisahkan gugur dalam perang di Kurukshetra atau Baratayuda pada malam hari ke-14. Perang besar tersebut adalah perang saudara antara keluarga Pandawa melawan Korawa, di mana Gatotkaca tentu saja berada di pihak Pandawa.
Versi Mahabharata mengisahkan, Gatotkaca sebagai seorang raksasa memiliki kekuatan luar biasa terutama pada malam hari. Setelah kematian Jayadrata di tangan Arjuna, pertempuran seharusnya dihentikan untuk sementara karena senja telah tiba. Namun Gatotkaca menghadang pasukan Korawa kembali ke perkemahan mereka.
Pertempuran pun berlanjut. Semakin malam kesaktian Gatotkaca semakin meningkat. Prajurit Korawa semakin berkurang jumlahnya karena banyak yang mati di tangannya. Seorang sekutu Korawa dari bangsa rakshasa bernama Alambusa maju menghadapinya. Gatotkaca menghajarnya dengan kejam karena Alambusa telah membunuh sepupunya, yaitu Irawan putra Arjuna pada pertempuran hari kedelapan. Tubuh Alambusa ditangkap dan dibawa terbang tinggi, kemudian dibanting ke tanah sampai hancur berantakan.
Duryodana pemimpin Korawa merasa ngeri melihat keganasan Gatotkaca. Ia memaksa Karna menggunakan senjata pusaka pemberian Dewa Indra yang bernama Shakti untuk membunuh rakshasa itu. Semula Karna menolak karena pusaka tersebut hanya bisa digunakan sekali saja dan akan dipergunakannya untuk membunuh Arjuna. Namun karena terus didesak, Karna terpaksa melemparkan pusakanya menembus dada Gatotkaca.
Menyadari ajalnya sudah dekat, Gatotkaca masih sempat berpikir bagaimana caranya untuk membunuh prajurit Kurawa dalam jumlah besar. Maka Gatotkaca pun memperbesar ukuran tubuhnya sampai ukuran maksimal dan kemudian roboh menimpa ribuan prajurit Korawa. Pandawa sangat terpukul dengan gugurnya Gatotkaca.
Dalam barisan Pandawa hanya Kresna yang tersenyum melihat kematian Gatotkaca. Ia gembira karena Karna telah kehilangan pusaka andalannya sehingga nyawa Arjuna dapat dikatakan relatif aman.

Kematian Versi Jawa
Perang di Kurukshetra dalam pewayangan Jawa biasa disebut dengan nama Baratayuda. Kisahnya diadaptasi dan dikembangkan dari naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157 pada zaman Kerajaan Kadiri.
Versi pewayangan mengisahkan, Gatotkaca sangat akrab dengan sepupunya yang bernama Abimanyu putra Arjuna. Suatu hari Abimanyu menikah dengan Utari putri Kerajaan Wirata, di mana ia mengaku masih perjaka. Padahal saat itu Abimanyu telah menikah dengan Sitisundari putri Kresna.
Sitisundari yang dititipkan di istana Gatotkaca mendengar suaminya telah menikah lagi. Paman Gatotkaca yang bernama Kalabendana datang menemui Abimanyu untuk mengajaknya pulang. Kalabendana adalah adik bungsu Arimbi yang berwujud raksasa bulat kerdil tapi berhati polos dan mulia. Hal itu membuat Utari merasa cemburu. Abimanyu terpaksa bersumpah jika benar dirinya telah beristri selain Utari, maka kelak ia akan mati dikeroyok musuh.
Kalabendana kemudian menemui Gatotkaca untuk melaporkan sikap Abimanyu. Namun Gatotkaca justru memarahi Kalabendana yang dianggapnya lancang mencampuri urusan rumah tangga sepupunya itu. Karena terlalu emosi, Gatotkaca sampai memukul kepala Kalabendana. Mekipun perbuatan tersebut dilakukan tanpa sengaja, namun pamannya itu tewas seketika.
Ketika perang Baratayuda meletus, Abimanyu benar-benar tewas dikeroyok para Korawa pada hari ke-13. Esoknya pada hari ke-14 Arjuna berhasil membalas kematian putranya itu dengan cara memenggal kepala Jayadrata.
Duryudana sangat sedih atas kematian Jayadrata, adik iparnya tersebut. Ia memaksa Karna menyerang perkemahan Pandawa malam itu juga. Karna pun terpaksa berangkat meskipun hal itu melanggar peraturan perang.
Mendengar para Korawa melancarkan serangan malam, pihak Pandawa pun mengirim Gatotkaca untuk menghadang. Gatotkaca sengaja dipilih kaarena Kotang Antrakusuma yang ia pakai mampu memancarkan cahaya terang benderang.
Pertempuran malam itu berlangsung mengerikan. Gatotkaca berhasil menewaskan sekutu Korawa yang bernama Lembusa. Namun ia sendiri kehilangan kedua pamannya, yaitu Brajalamadan dan Brajawikalpa yang tewas bersama musuh-musuh mereka, bernama Lembusura dan Lembusana.
Gatotkaca akhirnya berhadapan dengan Karna, pemilik senjata Kontawijaya. Ia pun menciptakan kembaran dirinya sebanyak seribu orang sehingga membuat Karna merasa kebingungan. Atas petunjuk ayahnya, yaitu Batara Surya, Karna berhasil menemukan Gatotkaca yang asli. Ia pun melepaskan senjata Konta ke arah Gatotkaca.
Gatotkaca mencoba menghindar dengan cara terbang setinggi-tingginya. Namun arwah Kalabendana tiba-tiba muncul menangkap Kontawijaya sambil menyampaikan berita dari kahyangan bahwa ajal Gatotkaca telah ditetapkan malam itu.
Gatotkaca pasrah terhadap keputusan dewata. Namun ia berpesan supaya mayatnya masih bisa digunakan untuk membunuh musuh. Kalabendana setuju. Ia kemudian menusuk pusar Gatotkaca menggunakan senjata Konta. Pusaka itu pun musnah bersatu dengan sarungnya, yaitu kayu Mastaba yang masih tersimpan di dalam perut Gatotkaca.
Gatotkaca telah tewas seketika. Arwah Kalabendana kemudian melemparkan mayatnya ke arah Karna. Karna berhasil melompat sehingga lolos dari maut. Namun keretanya hancur berkeping-keping tertimpa tubuh Gatotkaca yang meluncur kencang dari angkasa. Akibatnya, pecahan kereta tersebut melesat ke segala arah dan menewaskan para prajurit Korawa yang berada di sekitarnya. Tidak terhitung banyaknya berapa jumlah mereka yang mati.

Rabu, 25 November 2009

ULTAH kmren . . !!



tuh . !! fto wktu ultah gw kmren...!!! rame bgt..!!! gw jlek ya.. pke srgam pramuka... hahahahaahahahahahahahaha.....!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! acaranya di adain di Bunihayu Tambakan, di desa gw... sejuk bgt tempatnya, gila... kita d atas bawahnya sawah2 ijo nan bersih, trus kmren grmis gtu...!! jdi romantis...... hehehehheehehe... acaranya yg ngadain keluarga gw.. cmn anak kls gw doank si ytg ikut, pke 2 mobil borongan sgla wt ksna.. maklum sbgian orang2 jauh... pi gw sneng bgt...!!! thx friends.... I LOVE U... I LOVE COAST...

Selasa, 17 November 2009

tugas b.inggris (lagi)

example of explanation text :

How Earthquakes Happen
Earthquake is one of the most destroying natural disasters. Unluckily it often happens in several regions. Recently a horrible earthquake has shaken West Sumatra. It has brought great damages. Why did it occur? Do you know how an earthquake happens?

Earthquakes are usually caused when rock underground suddenly breaks along a fault. This sudden release of energy causes the seismic waves. It make the ground shake. When two blocks of rock or two plates are rubbing against each other, they stick a little. They don't just slide smoothly. The rocks are still pushing against each other, but not moving. After a while, the rocks break because of all the pressure that's built up. When the rocks break, the earthquake occurs.

During the earthquake and afterward, the plates or blocks of rock start moving, and they continue to move until they get stuck again. The spot underground where the rock breaks is called the focus of the earthquake. The place right above the focus is called the epicenter of the earthquake.

Minggu, 15 November 2009

artikel bahasa sunda (lagi)

Basa Daérah

Ku Ajip Rosidi

Istilah “basa daérah” ilahar digunakeun. Boh dina basa Sunda boh dina basa Indonésia, lamun aya nu ngagunakeun istilah “basa daérah” tangtu maksudna basa Suda, basa Jawa, basa Bali, basa Batak, basa Bugis jeung basa lianna anu di Indonésia jumlahna leuwih ti 700 rupa. Istilah “basa daérah” biasana dibédakeun tina “basa Indonésia” jeung “basa asing”. “Basa Indonésia” sakapeung disebut “basa nasional,” “basa kabangsaan”, “basa resmi” jeung “basa nagara”. “Basa daérah” sok diidentikkeun jeung “basa indung”. “Basa indung” téh tarjamahan tina basa Inggis “mother’s tongue”. Dina basa Inggris istilah “regional language” ngan dipaké dina hubungan Indonésia, hartina terjemahan tina “basa daérah”. Nu ilahar dipaké nya “mother’s tongue”.

Waktu UNESCO netepkeun “mother’s tongue”, ku urang langsung dihartikeun “basa daérah”. Padahal apan aya urang Indonésia urang Indonésia nu ka budakna ti leuleutik ngajak nyarita basa Indonésia, jadi “mother’s tongue” budakna téh tangtu basa Indonésia, lain basa daérah.

Istilah “basa daérah” mémang saenyana kurang merenah. Istilah “daerah” sok nimbulkeun ayana konsép “pusat”. Ari “daerah” lamun dipahareupkeun jeung “pusat” sok langsung dianggap leuwih inferior. “Pusat” salilana dianggap leuwih penting, leuwih utama, kudu leuwih diheulakeun, jll.

Dina urusan basa, “basa daérah” (“mother’s tongue” téa), basa daerah dianggap leuwih inférior manan basa Indonésia. Dina RUU Kebahasaan “bahasa daérah” dianggap ngan saukur jadi “lambang kebanggan daerah, lambang jati diri daerah, sarana pendukung budaya daerah dan sarana pengungkapan sastera daerah”. “Bahasa daérah” dianggap ngan saukur “dapat berfungsi sebagai sarana perhubungan dalam keluarga dan masyarakat daérah serta bahasa media massa lokal”. Dina hubunganana jeung “basa Indonésia”, basa daérah ngan “berfungsi sebagai pendukung bahasa Indonésia”.

Cindekna basa daérah mah henteu boga hak hirup mandiri. Lamun fungsina “sebagai pendukung bahasa Indonésia” dianggap anggeus, “basa daérah” gé kudu pérén.

RUU Kebahasaan anu disusun ku Pusat Bahasa eusina réa anu ngarendahkeun kalungguhan “basa daérah”. Hal éta bisa jadi ku sabab digunakeunana istilah “basa daérah”, sabab ari daérah” mah apan kudu ngawula ka “pusat” – sanajan geus aya undang-undang otonomi ogé. “Basa daérah” anu mandiri dianggap ngabahayakeu pusat. “Basa daérah” dianggap antipoda “basa nasional” jeung “basa nagara”, nyaéta basa Indonésia” téa.

Lamun sueg istilah anu digunakeun lain “basa daérah”, tapi “basa indung”, henteu mustahil anggapan cara kitu téh moal timbul, sabab istilah “indung” mah moal nimbulkeun sangkaan antipoda tina konsép “nasional” atawa “nagara”.

Masalahna, istilah “basa daérah” geus ngabaju digunakeun ku urang, lain baé dina basa Sunda, tapi dina basa Indonésia deuih. Tapi dina UUD 1945 anu asli, istilah “basa daérah” henteu digunakeun. Dina Pasal 36, ngan disebut “Bahasa Negara ialah bahasa Indonesia”. Ari dina Penjelasanana aya kalimah. “Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura, dsb.nya), bahasa-nbahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara”. Jigana tina kalimah éta timbul istilah “bahasa daérah” téh. Dina UUD 1945 anu geus dirévisi, kalungguhan “basa daérah” téh undak, sabab boga pasal sorangan, padahal dina Undang-undang 1945 anu asli mah ngan disebut sacara henteu langsung dina Penjelasan.

Ku kituna lamun urang rék ngaganti istilah “basa daérah” ku “basa indung” (bahasa ibu), nu kudu dirobah téh lain kabiasaan anu geus maneuh baé, tapi ngarobah UUD deuih. Tapi sanajan kitu, ku sabab gede pangaruhna kana sikep urang sorangan (kaasup para pejabat anu nyusun undang-undang katut para pejabat éksékutif) lamun ngagunakeun istilah “basa daérah”, jigana digantina istilah “basa daérah” jadi

”basa indung” téh mutlak perlu.

Pertimbangan lianna nyaéta ku sabab saenyana mah basa anu disebut “basa daérah” téh henteu bogaeun daérah. Basa Sunda lain basa hiji daérah. Di Jawa Barat salian ti basa Sunda apan aya basa Cirebon jeung basa Batawi. Basa Sunda ogé digunakeun di Banten jeung di sawatara wilayah di Jawa Tengah (daérah Brebes jeung Cilacap). Sabalikna “basa Indonésia” jadi “basa daérah” di Médan, Pontianak, Menado jeung lian-lianna — sanajan bisa disebut basa Indonésia dialék Médan, Pontianak, Menado jllna.

Lamun anu digunakeun istilah “basa indung”, jigana moal timbul anggapan nu nyababkeun dina RUU Kebahasaan aya kalimah anu unina ngan saukur nempatkeunana jadi “lambang kebanggaan daerah, lambang jati diri daerah, sarana pendukung budaya daerah dan sarana pengungkapan sastera daerah” nu saukur “berfungsi sebagai pendukung bahasa Indonesia.”

artikel bahasa sunda

Khutbah ku Basa Sunda

Ku Ajip Rosidi

Baheula mah khutbah téh kudu dina basa Arab baé, padahal jama´ahna henteu ngalartieun basa Arab. Béh dieu khutbah ku basa Arab geus beuki langka, sabab mémang henteu aya larangan khutbah ku basa nu lain basa Arab. Di Tatar Sunda (kaasup Banten) mimiti khotib khutbah dina basa Sunda atawa Indonésia. Tapi ka dieunakeun, khutbah dina basa Indonésia beuki populér, sabalikna nu khutbah dina basa Sunda beuki ngurangan.

Di masjid-masjid di Bandung, geus langka anu khutbahna ku basa Sunda. Alesanana "henteu kabéh jamaah bisaeun basa Sunda, da réa nu lain urang Sunda". Tapi anu khutbah ku basa Indonésia, sanajan jama´ahna kabéhanana urang Sunda anu tanwandé ngalartieun basa Sunda, lain ngan di kota gedé cara Bandung baé. Dalah di masjid kacamatan cara Cilimus (Kuningan), khutbahna (jeung katerangan anu ditepikeun ku ahli masjid saméméh khutbah) ditepikeunana ku basa Indonésia. Naha sikep kitu téh ku lantaran hayang ngabuktikeun rasa kabangsaan? Wallahu´alam, tapi rasa kabangsaan mah henteu kudu ditepikeun ku basa Indonésia. Suratkabar Sipatahoenan anu dina basa Sunda dina mangsa samémeh perang digolongkeunana kana surat kabar nasional, sabab eusina némbongkeun sikep kabangsaan. Hal éta némbongkeun yén rasa kabangsaan gé bisa ditepikeun ku basa Sunda - atawa basa dérah lianna. Pikeun jadi Indonésia, urang Sunda henteu kudu eureun jadi Sunda.

Naha ku lantaran ngagéhan ka nu kabeneran aya jalma anu henteu bisaeun basa Sunda jadi jama´ah di dinya? Sikep ngagéhan malah ngahormat ka sémah téh cenah salah sahiji sipat urang Sunda anu cenah némbongkeun kaluhungan budina. Tapi naha enya nyarita (dina hal ieu khutbah) ku lain basa Sunda duméh aya jamaah nu lain urang Sunda téh némbongkeun kaluhungan budi? Naha ciri kaluhungan budi téh leuwih mentingkeun sémah, manan pribumi anu jumlahna leuwih réa? Wallahu´alam. Tapi sikep kitu ogé bisa jadi gambaran tina jiwa katut sikep anu henteu istikomah, henteu yakin kana diri sorangan, ku sabab geus biasa ngawula kana kapentingan batur.

Kungsi milu Juma´ahan di masjid Turki deukeut Amsterdam, nagara Walanda. Éta masjid disebut kitu sabab diadegkeun ku komunitas urang Turki anu hirup di Walanda. Jama´ahna réréana urang Turki, sanajan réa muslim bangsa séjén, kaasup Walanda gé nu sok saralat di dinya. Saméméh salat Juma´ah, aya pangajian anu ditepikeun dina basa Turki. Dina waktu salat, khutbah ditepikeun dina basa Turki. Lain henteu tarerangeun yén aya bangsa séjén anu milu salat di dinya anu henteu bisaeun basa Turki, tapi maranéhanana mentingkeun ngawedelan kaimanan bangsana nu tanwandé leuwih merenah ditepikeun ku basa Turki, sanajan maranéhanana hirup di pangumbaraan.

Sabalikna waktu Juma´ahan di masjid Indonésia di Den Haag, khutbah ditepikeun dina basa Walanda anu titatarajong ku khotib urang Indonésia. Padahal di masjid éta téh jamaahna réréana urang Indonésia sanajan mémang aya bangsa séjén ogé, di antarana aya duaan atawa tiluan urang Walanda nu bisa jadi moal ngartieun kana basa Walanda anu digunakeun ku khotib.

Nu kasaksian di masjid Indonésia di Den Haag sarua jeung nu ayeuna biasa kasaksian di masjid-masjid di Tatar Sunda jeung Banten. Khotib anu khutbah dina basa Indonésia di Tatar Sunda gé réa anu basa Indonésiana titatarajong. Naha atuh maksakeun teuing khutbah dina basa Indonésia? Naha lain dina basa Sunda baé? Boa-boa geus hésé néangan khotib anu lancar lamun kudu khutbah dina basa Sunda téh.

Agama mah lain ngan urusan uteuk (akal) baé, tapi jeung rasa deuih. Numatak leuwih merenah ditepikeun ku basa indung. Béda nyantélna ka nu ngadéngékeun lamun ditepikeun ku basa indung mah. Yén basa indung penting, kabuktian ku dihormatna ku UNESCO nu ngayakeun "Poé Basa Indung" dina bulan Fébruari.

Yén basa indung baris leuwih nyerep kana sanubari nu ngabandunganana, kahalartieun ku para pandéta Kristen jeung Katolik, anu di garéja-garéjana béh dieu beuki réa diulik jeung diajarkeun basa indung. Dina misa gé basa Sunda geus réa dipaké. Lalaguan Sunda digunakeun dina acara-acara kaagamaan. Réa garéja anu ngayakeun kagiatan basa jeung kasenian daérah.

Nu matak sikep para ulama jeung khotib-khotib di masjid di urang nu nganggap leuwih hadé henteu ngagunakeun basa Sunda dina khutbah Juma´ah, mutuh matak hélok. Padahal apan urang Sunda mah réréana ngagem agama Islam, hartina di imah gé dina urusan agama ngagunakeun basa Sunda, basa indungna. Jadi kana baris leuwih nyerepna lamun ngabandungan khutbah di masjid dina basa indungna. Ku henteu digunakeunana basa indung, nyaéta basa Sunda, dina khutbah di masjid-masjid atawa tablég di majlis-majlis pangajian, sacara henteu langsung milu maéhan basa Sunda. Nyaéta ku sabab henteu méré kasempetan kana basa Sunda sangkan hirup tur tumuwuh dina widang anu paling subtil, nyaéta widang agama, widang kayakinan. Bisa jadi konsékwénsi tina henteu ngagunakeun basa Sunda dina khutbah jeung tablég ayeuna baris maéhan basa Sunda téh henteu nepi ka kapikireun ku para pangurus masjid jeung para khotib, da tara mikir jangka panjang. Bisa jadi karagéteunana engké lamun hal éta geus kajadian. Nu matak ironis, engké mah garéja-garéja anu malah ngagunakeun basa Sunda dina kagiatanana téh.**